Sisi gelap piala dunia qatar yang membuat Piala dunia 2022 tidak seru


Sisi gelap piala dunia qatar
- Piala dunia merupakan hajatan sepak bola 4 tahunan yang kehadirannya ditunggu banyak orang di berbagai penjuru negara. Kamu pasti ingat edisi 2010 di Afrika Selatan ketika terompet Fufuzella dan bola jabulani bikin helatan ini jadi kian semarak bukan.

Nah sekarang kondisinya beda, piala dunia 2022 seperti nggak punya euforia. Piala Dunia tahun ini diselenggarakan di Qatar dari 20 November sampai 18 Desember 2022. Pemilihan tanggal tergolong nggak lazim lantaran pada umumnya hajatan Piala Dunia dilaksanakan saat musim panas yaitu Juni dan Juli

Pergeseran waktu didorong faktor cuaca panas di Qatar kalau musim panas tiba suhu di Qatar bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celcius, studi kelayakan yang dilakukan FIFA pada 2014 dan 2015 bilang kalau kondisi itu nggak ideal buat para pemain.

Pergeseran jadwal pun berdampak pada kompetisi domestik dan kontinental. Contohnya di Eropa ketika pihak regulator mesti bersiasat menggeser jadwal akhir tahun yang biasanya dipadati dengan agenda Liga Champions maupun Eropa

Usulan untuk memajukan jadwal ke April hingga Mei 2022 sempat menggema tapi ditolak di waktu bersamaan perubahan ini turut berdampak pada intensitas pemain misalnya para pemain yang berlaga di Liga Inggris mereka hanya punya waktu sekitar seminggu untuk bergabung dengan Timnas.

Lalu hanya ada 8 hari waktu pemulihan setelah helatan berakhir untuk kemudian melanjutkan Liga yang bergulir pada 26 Desember 2022. Masih berjalannya Liga lantas dinilai jadi faktor yang buat piala dunia 2022 Kurang semangat fokus pemberitaan media olahraga masih berada pada kompetisi dan segala dinamikanya, ini berbeda dengan edisi sebelumnya Ketika Piala Dunia diadakan tepat saat jeda libur kompetisi.

Namun di luar urusan itu, Pemilihan kata sebagai host sejak awal memang sarat masalah. Qatar ditunjuk menjadi tuan rumah piala dunia 2022 pada 2010.

Pada 2021 Kejaksaan Amerika Serikat menduga pejabat FIFA menerima suap agar meloloskan Qatar sebagai host, upaya pengusutan membawa 16 dari 22 pejabat elit FIFA sebagai terduga pesakitan mereka diselidiki atas tindak korupsi yang berhubungan dengan penunjukan Qatar sebagai host.

Pusaran kasus suap dan korupsi Qatar berpusat pada 3 nama sebagai hukuman mereka dilarang berkecimpung di dunia sepak bola otoritas terkait juga bilang kalau selain individu korupsi dan suap host Piala Dunia turut melibatkan Negara di Amerika Selatan yang diduga terima bayaran dari Qatar.

Tapi tuduhan-tuduhan itu nggak pernah benar-benar menyentuh Qatar.  Qatar memenangkan hak atas tuan rumah dengan memainkan permainan FIFA dengan aturan FIFA, berbeda dengan pesaingnya Inggris Australia dan AS lobi-lobi yang dilakukan Qatar begitu Intens

Satu laporan pernah bilang kalau duit yang digelontorkan Qatar untuk lobi-lobi sentuh 200 juta USD. Masalah gak berhenti di situ persiapan Qatar sebagai host juga dipenuhi dugaan pelanggaran HAM kepada para pekerja konstruksi

Para pekerja digambarkan mengalami kondisi perbudakan modern kondisi kerja mereka nggak layak disinyalir berujung pada tewasnya ribuan pekerja kompensasi atas kematian atau kecelakaan kerja pun juga nggak diberikan, intinya neraka tercipta di Qatar untuk para pekerja konstruksi

Pihak Qatar membantahnya Seraya klarifikasi bahwa pekerja yang meninggal adalah 38 orang dugaan pelanggaran HAM yang muncul di Qatar kemudian picu protes berskala cukup masif seruan kritik dan boikot menjadi pemandangan yang lumrah ditemui di stadion-stadion Eropa

Masalah-masalah yang muncul dalam Piala Dunia Qatar 2022 menjadi bahan bakar untuk meluncurkan protes dan mungkin di waktu yang sama meredupkan antusiasme kita terhadap gelegar sepak bola dan kali ini rasanya telunjuk punya satu arah yang sama organisasi besar yang
korup bernama FIFA.

Belum ada Komentar untuk "Sisi gelap piala dunia qatar yang membuat Piala dunia 2022 tidak seru"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel